MENGATASI KEMALASAN

Mungkin di keseharian anda banyak dijumpai beberapa orang yang sangat berkeinginan mengatasi sikap malas yang juga merupakan masalah yang saat ini masih tetap saya hadapi dan terkadang banyak orang yang secara tidak sadar telah bermalas-malasan, nah inilah celakanya. Bahkan ada hanya berkeinginan yang hanya di angan saja. Banyak orang selalu berandai-andai “seandainya…….seandainya……...” tetapi tidak mengambil tindakan yang mengarah ke pada impiannya, penyebab pertama adalah karena malas, atau dengan alasan sibuk.

Nabi Muhammad SAW. sangat tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata 'seandainya'. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya. Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas. Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung." (HR Abu Dawud).

Menurut Robert T. Kiyosaki yang merupakan bapaknya orang kaya abad ini, berpendapat bahwa “Orang sibuk seringkali orang yang paling malas”.

Maka banyak orang beralasan sibuk karena itu salah satu cara untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Ada orang sibuk nonton TV, sibuk arisan, bermain game, sibuk belanja ke Mall, namun didalam hati mereka ingin menghindari sesuatu hal yang tidak ingin mereka hadapi atau kerjakan. Ini adalah bentuk kemalasan yang paling umum. Malas dengan jalan tetap sibuk. Ada juga orang yang sibuk bekerja keras sehingga tidak perduli dengan istri dan anaknya. Dan ada juga orang yang terlalu sibuk mengurusi kekayaan mereka dan tidak perduli dengan kesehatan mereka. Dan ada orang yang terlalu sibuk mengurusi kesehatan dan tidak perduli lagi terhadap pekerjaan. Yang menjadi ukuran malas adalah apa yang dianggap penting jauh di dalam lubuk hati mereka, tetapi mereka hindari.

Seperti pendapat yang diungkapkan oleh Motivator No. 1 di Indonesia yaitu Tung Desem Waringin maka untuk mengatasi kemalasan kita harus mempunyai alasan yang sangat kuat. Alasan yang sangat kuat itu adalah menghindari sengsara dan mencari nikmat. Coba anda bayangkan, dengarkan, dan rasakan penderitaan yang amat sangat dengan detail dan emosionil (tulis minimal 10 kerugian) bila kita masih bermalas-malasan atau tidak melakukan hal-hal yang penting, dan bayangkan, dengarkan dan rasakan kenikmatan yang amat sangat secara detail dan emosionil (tulis minimal 10 kenikmatan) bila kita sudah mulai rajin dan melakukan hal-hal yang penting. Penderitaan dan kenikmatan ini bukan hanya sekarang, tapi 1 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan dan 20 tahun kedepan dan bahkan penderitaan dan siksa yang pedih di Akhirat (Neraka) kelak. Atau Anda juga bisa mengatasinya dengan mengerjakan hal terkecil terlebih dahulu.

Maka saran saya mulai saat ini juga lakukan hal kecil positif yang pernah anda tunda-tunda dan saat kemalasan itu datang maka tanyakan pada diri anda apa ruginya jika tidak bertindak sekarang, dan apa keuntungan jika bertindak sekarang, kemudian bayangkan, dengarkan, dan rasakan juga kesengsaraan dan kenikmatannya yang mengharuskan bertindak sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar